Jakarta – Pertemuan hangat antara tokoh masyarakat Fransiscus Go dan komunitas anak muda berlangsung di Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dalam pertemuan tersebut, berbagai gagasan tentang pelestarian alam dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dibahas secara terbuka dan penuh semangat. Diskusi ini melibatkan Tim Gejala, sebuah gerakan anak muda yang berfokus pada upaya menjaga alam dan sumber air.
Pertemuan tersebut dipimpin oleh Mbak Yaya, yang menjadi penggerak komunitas anak muda dalam gerakan menjaga lingkungan. Ia bersama anggota Tim Gejala aktif mendorong generasi muda agar lebih peduli terhadap kelestarian alam di sekitar mereka. Gerakan ini menempatkan air dan lingkungan sebagai fondasi utama kehidupan masyarakat.
Dalam diskusi tersebut, Fransiscus Go menekankan pentingnya kesadaran generasi muda terhadap keberlanjutan alam. Menurutnya, menjaga alam bukan sekadar tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Anak muda, kata dia, memiliki peran penting dalam memastikan alam tetap lestari bagi generasi mendatang.
Selain membahas isu lingkungan, pertemuan itu juga menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi di tingkat kampung. Anak-anak muda didorong untuk berani bertani dan mengembangkan usaha produktif di daerahnya sendiri. Dengan begitu, mereka tidak hanya menjaga alam, tetapi juga membangun masa depan ekonomi yang lebih mandiri.
Pertemuan berlangsung di sebuah lapak kopi sederhana milik salah satu anggota Tim Gejala. Tempat tersebut menjadi ruang diskusi yang hangat sekaligus tempat tumbuhnya berbagai ide kreatif dari anak-anak muda setempat. Suasana santai namun penuh semangat membuat diskusi berjalan dinamis dan inspiratif.
Lapak kopi tersebut juga menjadi contoh kecil bagaimana UMKM dapat berkembang dari komunitas lokal. Usaha sederhana itu bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga ruang bagi anak muda untuk berbagi gagasan, belajar, dan saling menguatkan. Dari tempat sederhana inilah banyak ide pemberdayaan lahir.
Sementara itu, Mbak Yaya juga mengembangkan beberapa produk UMKM lokal. Di antaranya adalah sambal Aset dan minyak kemiri yang diproduksi secara mandiri oleh komunitas setempat. Produk-produk tersebut menjadi contoh nyata bagaimana potensi lokal dapat diolah menjadi peluang ekonomi.
Pengembangan UMKM ini tidak terjadi secara instan. Semua lahir dari proses pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan kepada anak-anak muda di daerah tersebut. Melalui pendampingan ini, mereka belajar mengelola usaha sekaligus memanfaatkan potensi alam secara bijak.
Gerakan yang dilakukan Tim Gejala menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat. Anak muda tidak hanya diajak menjaga alam, tetapi juga didorong untuk menjadi pelaku usaha yang mandiri. Kombinasi ini diharapkan mampu menciptakan pembangunan yang berkelanjutan di daerah.
Melalui pertemuan tersebut, semangat kolaborasi antara tokoh masyarakat dan generasi muda semakin menguat. Harapannya, gerakan menjaga alam dan membangun UMKM ini dapat terus berkembang dan menginspirasi daerah lain. Anak muda Soe pun diharapkan mampu menjadi garda depan dalam menjaga tanahnya sekaligus membangun masa depan ekonominya sendiri.





