Maumolo – Di balik hamparan perbukitan Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, tersimpan sebuah kisah tentang semangat yang tak pernah padam. Kampung Maumolo, atau yang dikenal warga setempat sebagai Kuan Maumolo, kini tengah menapaki jalan baru menuju kebangkitan. Sebuah program pemberdayaan yang digagas Yayasan YFMG hadir membawa angin segar bagi masyarakat yang telah lama berjuang menghadapi kerasnya tantangan alam.
Ketua Yayasan Felix Maria Go, Ir. Fransiscus Go, atau yang akrab disapa Frans Go, menyampaikan bahwa program pemberdayaan Kampung Maumolo merupakan wujud nyata dari semangat membangun dari akar. Menurutnya, kekuatan sebuah bangsa sejatinya berakar dari desa, bukan dari kota. Dengan keyakinan itulah, Yayasan YFMG memilih hadir dan mendampingi masyarakat Maumolo secara langsung di tengah kehidupan mereka sehari-hari.
Program yang disampaikan Frans Go mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat desa, mulai dari pengembangan ekonomi kreatif, peningkatan keterampilan warga, hingga pemanfaatan potensi alam secara berkelanjutan.
Bagi Frans Go, langkah-langkah ini bukan sekadar menciptakan lapangan kerja, melainkan menumbuhkan kemandirian yang berakar kuat dalam diri masyarakat. Kemandirian itulah yang diyakini akan bertahan jauh lebih lama dibandingkan bantuan yang bersifat sementara.
Frans Go juga menekankan bahwa Maumolo menyimpan kekayaan budaya dan sumber daya alam yang luar biasa dan sayang untuk diabaikan. Tugas yayasan, menurutnya, adalah mendampingi masyarakat agar potensi tersebut dapat dikelola dengan bijak dan berkelanjutan. Ia berharap desa tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan sosial yang membanggakan.
Harapan besar Frans Go adalah agar program ini kelak menjadi contoh nyata bagi daerah-daerah lain di Indonesia. Bahwa ketika masyarakat desa diberi kesempatan dan pendampingan yang tepat, mereka mampu berdiri tegak, hidup sejahtera, dan bangga dengan identitas serta budayanya sendiri. Sebuah impian sederhana namun penuh makna yang kini mulai dirajut bersama warga Maumolo.
Namun untuk memahami arti penting program ini, perlu kiranya kita menengok sejenak ke masa lalu Kampung Maumolo. Bagi sebagian besar masyarakat Kefamenanu, kampung yang terletak di Kelurahan Bansone, Kecamatan Kota Kefamenanu ini dulunya dikenal sebagai sentra produksi sayur mayur dan buah-buahan yang subur dan hijau. Dihuni sekitar 900 kepala keluarga, mayoritas warganya hidup dari hasil pertanian yang melimpah.
Sayangnya, kejayaan itu kini hanya tinggal kenangan yang tersimpan dalam ingatan para tetua kampung. Kekeringan berkepanjangan perlahan menggerogoti kehidupan warga Maumolo hingga air pun menjadi barang berharga yang sulit ditemukan. Untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa membeli air tangki seharga Rp70.000 hingga Rp80.000 per tangki, yang hanya cukup untuk dua minggu pemakaian.
Sumber kehidupan yang selama ini menjadi tumpuan harapan warga pun satu per satu mengering. Mata air yang dulu mengalir deras di bawah pohon besar yang rindang, perlahan kehilangan debitnya hingga akhirnya benar-benar kering. Perubahan yang terjadi begitu lambat namun dampaknya terasa begitu dalam bagi seluruh warga kampung.
Stefanus Kefi, salah seorang warga yang menyaksikan perubahan itu dengan mata kepalanya sendiri, mengenang masa kejayaan Maumolo dengan penuh haru. Ia bercerita bahwa mata air di bawah pohon besar itu dulunya sangat besar dan mampu mencukupi kebutuhan warga maupun lahan pertanian tanpa kekurangan. Namun tanpa diketahui sebabnya, debit air itu mengecil lalu mengering sama sekali, dan sejak saat itulah kesulitan air mulai menghantui kehidupan warga.
Di sinilah kehadiran Yayasan YFMG menjadi begitu berarti bagi masyarakat Maumolo. Bukan hanya membawa program dan bantuan, tetapi hadir sebagai mitra yang duduk bersama, mendengarkan, dan berjalan beriringan bersama warga.
Dengan semangat membangun dari akar, Kampung Maumolo kini mulai merajut kembali harapannya, satu langkah demi satu langkah, menuju hari esok yang lebih cerah.




