Skip to content

Yaya Nabuasa Tunjukkan Dedikasi Perempuan Merdeka Berkarya, Dorong Kemandirian dari Desa

Facebook
WhatsApp
Twitter
Email
Print

TIMOR TENGAH SELATAN, NTT – Eksistensi perempuan dalam menggerakkan potensi desa kembali ditunjukkan Yarni Nabuasa, pemilik usaha Aset Sambal yang akrab disapa Yaya. Perempuan asal Desa Sais’ana, Kecamatan Noebeba, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), juga menunjukkan dedikasinya dalam kompetisi ajang Perempuan Merdeka Berkarya tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bagi Yaya, keikutsertaan dalam ajang tersebut bukan sekadar kompetisi. Momentum itu menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai upaya pemberdayaan masyarakat yang selama ini dilakukan bersama warga di kampung halamannya.

Sebagai perempuan yang lahir dan besar di Desa Sais’ana, Yaya memiliki keinginan yang kuat untuk mengajak generasi muda maupun orang tua membangun mimpi dari desa. Ia ingin menunjukkan bahwa keterbatasan di desa bukan alasan bagi masyarakat untuk meninggalkan kampung halaman demi mencari kehidupan yang lebih baik.

Semangat tersebut kemudian diwujudkan melalui Gejala (Gerakan Jaga Alam dan Air). Gerakan ini mendorong masyarakat dari berbagai kalangan usia, mulai dari remaja hingga orang tua, untuk memanfaatkan lahan, bertani, mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai ekonomi, hingga memasarkannya.

Menurut Yaya, berbagai keterbatasan yang dimiliki masyarakat desa justru dapat menjadi pemicu untuk terus berinovasi. Di balik hasil yang dinikmati masyarakat, proses panjang yang melibatkan kerja keras, keringat, gotong royong, serta harapan yang ditanam bersama.

“Bagi banyak keluarga, pertanian adalah kehidupan. Dari tanah inilah harapan tumbuh, tidak selalu mudah, panas hujan, tantangan harga dan sebagainya harus menghadap,” ungkap Yaya.

Yaya yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan menilai pertanian bukan sekadar pekerjaan. Baginya, aktivitas mengolah tanah dan menghasilkan produk merupakan salah satu sarana untuk menumbuhkan harapan sekaligus membangun kemandirian ekonomi masyarakat.

Dari tangan kreatif masyarakat, berbagai produk kemudian lahir dan menjadi kebanggaan desa. Selain Aset Sambal, Yaya juga mengembangkan produk minyak kemiri serta aneka makanan ringan. Usaha tersebut sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk terlibat dan mendapatkan manfaat ekonomi.

Yaya menilai pemberdayaan perempuan menjadi bagian penting dari proses membangun kemandirian desa. Perempuan yang sebelumnya tidak berani bersuara perlahan dapat tampil percaya diri, membantu perekonomian keluarga, serta memiliki keberanian untuk menentukan masa depan dirinya dan anak-anaknya.

“Puji Tuhan, yang saya lakukan itu masyarakat telah mendorong menjadi mandiri. Tentu tidak lepas dari dukungan mentor saya Fransiskus Go,” ujar Yaya.

Sebelum tampil di tingkat Provinsi NTT, Yaya terlebih dahulu mengikuti Lomba Dapur Hidup yang diselenggarakan Yayasan Felix Maria Go (YFMG) di Desa Persiapan Sais’ana, Kabupaten TTS. Kegiatan tersebut diikuti hampir 50 peserta.

Pengalaman itu kemudian menjadi salah satu pijakan bagi Yaya untuk melangkah ke ajang Perempuan Merdeka Berkarya di tingkat Provinsi NTT. Baginya, ketika satu perempuan di desa mampu berdaya, maka terbuka peluang untuk ikut menyelamatkan dan mempersiapkan masa depan satu generasi.

Berita Terkait

TERKINI