Skip to content

Jika Diberikan Kesempatan, Pasti Bisa

Facebook
WhatsApp
Twitter
Email
Print

Oleh: Deni Gunawan

“Pendidikan adalah kunci Provinsi NTT, menumbuhkan keberhasilan, membukakan pintu menuju masa depan yang lebih cerah, diikuti dengan penguatan program kesehatan dan ekonomi rakyat.”

Fransiscus Go

Manusia kini menjalani kehidupan dalam era digital, yang sering disebut sebagai Era Industri 4.0, dan kita melangkah menuju Era Industri 5.0. Untuk memahami Era 4.0 dengan lebih sederhana, kita harus menyadari bahwa kehidupan manusia saat ini tidak dapat dipisahkan dari internet dan dunia digital. Hampir semua aktivitas manusia telah berpindah ke ranah digital.

Namun, di balik gemerlapnya kemajuan Industri 4.0 di pusat-pusat peradaban dunia, termasuk Indonesia, terdapat kenyataan yang jauh dari harapan dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah kemajuan Era 4.0, NTT masih memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah di Indonesia. Ini mencerminkan masalah dalam pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Kondisi di NTT meskipun tidak setara tetapi memiliki potret yang sama dengan kondisi Hiroshima dan Nagasaki, Jepang kala itu, meskipun penyebabnya tentu berbeda. Jika Jepang terpuruk akibat perang ditandai dengan kehancuran Hiroshima dan Nagasaki, NTT terpuruk akibat rendahnya mutu pendidikan, kurangnya dana untuk pendidikan dan kesehatan, yang membuat IPM NTT berada diurutan terendah ketiga di Indonesia.

Untuk mengatasi masalah ini, kita dapat mengambil inspirasi dari langkah-langkah yang diambil oleh Hirohito untuk menghadapi krisis yang dihadapi Jepang pada masa itu. Fokus utamanya adalah meningkatkan mutu pendidikan. Fransiscus Go, Direktur GMT Jakarta yang juga putra NTT, percaya pada pentingnya memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) NTT untuk dapat bersaing dengan daerah lain di Indonesia.

Ia meyakini, jika setiap orang atau anak-anak diberikan kesempatan yang sama terhadap akses dan sarana pendidikan yang bagus, sebagaimana yang didapatkan oleh anak-anak di Jawa, maka anak-anak itu akan tumbuh dan berhasil menggapai cita-cita sebagaimana yang diharapkan. Kenyataan itu tampak pada banyaknya pejabat-pejabat dari Provinsi NTT yang berkiprah di kancah nasional, bahkan mereka juga diberikan peran-peran penting di dalam pemerintahan. Ini bukti, bahwa SDM NTT bisa berprestasi dan bersaing jika diberikan kesempatan yang sama.

Jika anak-anak NTT dibantu untuk mendapatkan akses pendidikan yang baik, tentu anak-anak NTT akan melesat jauh, mampu menggapai prestasi yang tertinggi. Bahkan, tidak hanya akan diterima di kampus seperti UI, UGM, atau ITS, mereka bisa jadi akan diterima di universitas-universitas ternama dunia seperti Harvard dan Oxford.

Selain itu, kita harus berhenti menilai anak-anak yang tidak dapat berprestasi dengan stigmatisasi negatif. Kita menuntut mereka untuk berprestasi, untuk bisa masuk di kampus-kampus top nasional, tetapi pada saat yang sama sarana dan prasarana yang mereka butuhkan tidak pernah kita berikan dengan layak. Padahal jika mau adil, berikan mereka sarana dan prasarana yang layak, kemudian baru kita nilai hasilnya.

Siapa pun, termasuk anak-anak NTT, jika diberikan kesempatan yang sama untuk dapat mengakses pendidikan yang layak sebagaimana yang ada di Jawa, maka mereka tidak akan kalah dengan anak-anak yang berada di tanah Jawa yang memiliki akses dan fasilitas yang lengkap dibandingkan di Provinsi NTT.

Suatu waktu, saya pernah berjumpa dengan Antonius Ama Kamore seorang anak NTT di sebuah kafe di pusat Jakarta. Ia berasal dari Desa Motongbang, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Saya berbincang dengannya, bertanya kenapa ia bisa sampai di Jakarta. Ia mengisahkan bahwa dirinya ke Jakarta karena dibantu dan dibawa oleh seorang bernama Fransiscus Go, pemilik kafe di Jalan Kendal nomor 1 Jakarta Pusat tersebut.

Sebagai anak desa dari Kabupaten Alor, ia mengatakan bahwa agak sulit untuk bisa ke Jakarta jika tidak memiliki akses yang bisa dijajaki. Nah, melalui Frans inilah Antonius diajak ke Jakarta, dan di Jakarta ia dikuliahkan sekaligus diberdayakan di unit usaha milik Frans.

Antonius sendiri kuliah di Universitas Esa Unggul Jakarta dengan jurusan Akuntansi Bisnis. Ajaibnya, nilai IPK-nya hampir mendekati sempurna, 3,84. Tentu ini prestasi luar biasa. Antonius tidak sendiri, terdapat beberapa anak dari beberapa desa dari Provinsi NTT yang juga dikuliahkan dan diberdayakan Frans di Jakarta.

Sebagai anak daerah, saya memahami betul bahwa akses dan informasi pendidikan yang memadai adalah anugerah yang tiada tara jika kita mendapatkannya. Apalagi bila ada yang mengarahkan, membimbing, dan menunjukkan jalannya. Saya merasakan betul sulitnya untuk berjuang dan bermimpi untuk bisa berkuliah, apalagi di Jakarta. Tidak ada sanak famili, tidak ada teman, tidak ada informasi, tidak ada mentor, dan sebagainya adalah kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi oleh anak-anak desa dari pelosok-pelosok Indonesia seperti saya, Antonius, dan anak-anak lainnya.

Oleh karena itu, apa yang dikerjakan oleh Frans terhadap anak-anak NTT adalah suatu yang luar biasa. Pola “menggendong” anak-anak untuk sukses dengan bersedia menjadi “orang tua asuh” adalah cara sederhana untuk bisa memajukan pendidikan daerahnya.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu pendidikan Provinsi NTT dan memberikan kesempatan bagi anak-anak Provinsi NTT untuk mendapatkan informasi dan pendidikan yang lebih baik, saya pikir beberapa aktivitas, yang terinspirasi dari tindakan Fransiscus, bisa kita lakukan:

1. Menyelenggarakan Festival Pendidikan

Upaya sederhana yang dapat diimplementasikan untuk merangsang aktivitas pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah dengan mengadakan Festival Pendidikan. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan sekurang-kurangnya sebulan sekali di tingkat kabupaten/kota di seluruh Provinsi NTT. Pendanaan dapat diperoleh melalui kolaborasi dengan sponsor dan dana dari APBD daerah masing-masing kabupaten/kota. Idealnya, festival ini juga diadakan di setiap desa/kelurahan di Provinsi NTT dengan alokasi dana dari dana desa, jika memungkinkan, dengan dukungan dari sponsor.

Festival Pendidikan ini dapat diisi dengan berbagai kegiatan seperti bazar buku, seminar kurikulum, informasi beasiswa dari perguruan tinggi unggulan di Indonesia, motivasi pendidikan, seminar tentang cara mendapatkan beasiswa, pelatihan membaca, menulis, bercerita, seminar pendidikan vokasi, dan kegiatan lain yang dianggap penting.

2. Program Orang Tua Asuh

Mengingat kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat NTT yang belum memadai, mendorong anak-anak NTT untuk mendapatkan pendidikan yang layak menjadi tantangan yang semakin berat. Dalam situasi perut kelaparan, orang sulit memikirkan hal lain, termasuk pendidikan, kecuali untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Untuk mengatasi situasi ini, tidak mungkin memaksa setiap kepala keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Diperlukan pendekatan khusus untuk mengatasi masalah ini. Selain peningkatan alokasi anggaran pendidikan di Provinsi NTT, alternatif yang bisa diterapkan adalah dengan menitipkan anak-anak berpotensi NTT yang telah lulus SMA kepada orang tua asuh yang tinggal di Jawa atau daerah maju lainnya. Tujuannya adalah agar mereka dapat merawat dan menyekolahkan anak-anak tersebut hingga menyelesaikan kuliah.

Langkah ini dapat dimulai dengan berkomunikasi dengan diaspora NTT di Jawa atau daerah maju lainnya untuk mendukung program ini. Atau jika memungkinkan, bekerja sama dengan individu yang peduli terhadap pendidikan anak-anak Indonesia, termasuk di Provinsi NTT. Model program seperti ini umumnya telah diimplementasikan di negara-negara maju di Eropa, seperti Jerman dan Austria, untuk membantu anak-anak di negara berkembang.

3. Meningkatkan Kualitas Sarana Pendidikan

Salah satu faktor penurunan mutu pendidikan di NTT adalah kondisi sarana dan prasarana pendidikan yang belum memenuhi standar sebagai sekolah. Masih ada sekolah yang kekurangan ruangan, tidak memiliki perpustakaan, dan rusak parah.

Selain upaya pemerintah, diperlukan kerja sama dengan swasta atau individu yang peduli terhadap pendidikan untuk memperbaiki kondisi sekolah. Langkah sederhana adalah melibatkan diaspora yang telah sukses dan bersedia membantu memperbaiki sekolah-sekolah yang rusak. Bantuan bisa berupa kontribusi langsung atau dengan mengajak sponsor.

4. Program NTT Mengajar

Salah satu kendala utama dalam pengembangan pendidikan di Provinsi NTT adalah terbatasnya jumlah dan kualitas guru. Dengan jumlah guru yang terbatas dan kualitas yang belum memadai, sulit untuk mencapai perubahan signifikan dalam mutu pendidikan. Kendati tanggung jawab utama perbaikan mutu guru berada pada pemerintah, tetapi ada peluang bagi swasta atau individu untuk berkontribusi.

Dukungan dapat diberikan dengan mendorong sukarelawan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni untuk mengajar di sekolah-sekolah di seluruh Provinsi NTT, terutama di daerah terpencil dan miskin. Para sukarelawan dapat ditempatkan di daerah tersebut selama beberapa bulan, semester, atau tahun. Pendanaannya dapat dilakukan dengan prinsip gotong royong, di mana sukarelawan menyumbangkan ilmu, tenaga, dan waktu mereka, sementara pemerintah dan masyarakat membantu fasilitasi mereka ke daerah tersebut.

5. Pengembangan Sekolah Vokasi

Meskipun peningkatan mutu pendidikan adalah solusi utama untuk meningkatkan ekonomi masyarakat NTT, perubahan seperti itu memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, perlu ada terobosan pendidikan yang dapat memberikan dampak cepat, seperti pendirian sekolah vokasi.

Sekolah vokasi harus didirikan dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar. Sekolah vokasi tidak boleh didirikan semata-mata tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan peluang kerja di wilayah tersebut. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu diambil adalah menjajaki kerja sama dengan perusahaan-perusahaan di NTT. Perusahaan mana yang membutuhkan tenaga kerja? Berapa banyak pekerja yang mereka butuhkan setiap tahun? Dan keahlian apa yang mereka cari? Dengan informasi ini, maka orientasi pendidikan di sekolah vokasi dapat menjadi lebih relevan.

Misalnya, Perusahaan Melati yang bergerak di bidang pariwisata, khususnya di bidang perhotelan dan kuliner, membutuhkan banyak karyawan setiap tahun. Mereka dapat menampung sekitar 100 karyawan baru setiap tahun. Oleh karena itu, aturan terkait tata kelola negara perlu diatur untuk mengarahkan sekolah vokasi sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja di NTT.

6. Peningkatan Mutu Pendidikan Guru

Tidak hanya mendorong sukarelawan untuk terlibat dalam program NTT Mengajar, tetapi hal yang mendasar yang tak boleh terlupakan adalah meningkatkan mutu pendidikan guru. Dalam situasi yang menuntut percepatan, ketertinggalan sumber daya guru di Provinsi NTT harus diatasi dengan meningkatkan mutu pendidikan mereka.

Sebagai contoh, program pelatihan berkala setiap enam bulan dapat diimplementasikan. Bagi guru-guru yang berada di desa-desa terpencil dan kurang beruntung, mereka perlu diberikan perlakuan “istimewa” berupa peningkatan pengetahuan, akses, serta bantuan ekonomi untuk memotivasi dan meningkatkan mutu mereka dalam proses pendidikan.

7. Pembangunan Infrastruktur Jaringan Internet

Mungkin di antara beragam program yang ada, ini adalah salah satu yang memerlukan alokasi anggaran yang cukup besar. Namun, pendidikan adalah hak konstitusi bagi setiap warga, dan akses informasi adalah sarana yang esensial dalam meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu, kita harus melaksanakan pembangunan infrastruktur jaringan internet, meskipun dengan segala tantangan yang dihadapi.

Kita telah memasuki era 4.0 dan bahkan mencapai era 5.0, namun masih banyak siswa di NTT yang belum dapat mengakses dan memahami manfaat internet. Keterbatasan akses informasi ini dapat menjadi hambatan bagi kemajuan kelompok masyarakat di wilayah tersebut. Oleh karena itu, pembangunan jaringan internet yang merata di Provinsi NTT menjadi sebuah cita-cita yang patut dikejar dengan sungguh-sungguh.

Sumber: catatan Deni Gunawan, “Baku Jaga untuk Provinsi Selaksa Nusa”, Yogyakarta: Mata Kata, 2023.

Berita Terkait

TERKINI