Skip to content

SDM HANDAL, SENJATA MENGHENTIKAN UPAH MURAH

Facebook
WhatsApp
Twitter
Email
Print

oleh: Ir. Fransiscus Go, diambil dari buku Mengakhiri Era Tenaga Kerja Murah

Di tengah dilema konsekuensi globalisasi antara melindungi kepentingan warga negara dan mempertahankan iklim investasi, terselip harapan pada kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dengan tenaga kerja yang cerdas, andal, dan kompeten, Indonesia diharapkan mampu menghasilkan produk nasional dan jasa unggulan yang siap bersaing di pasar dunia.

Dengan modal tenaga kerja berkualitas, bangsa Indonesia diyakini mampu secara mandiri menggerakkan roda pembangunan nasional di berbagai sektor. Tenaga kerja Indonesia dapat berpartisipasi dalam pemerintahan, sektor swasta, badan usaha, berbagai kelembagaan, serta dunia usaha dan industri.

Tenaga kerja Indonesia juga diharapkan mampu menghasilkan produk dan jasa berkualitas di dalam negeri, bersaing secara sehat dan kompetitif dengan tenaga kerja asing di perusahaan-perusahaan multinasional, sekaligus memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar kerja internasional.

Namun, kondisi ketenagakerjaan di Indonesia sebagaimana telah diulas masih cukup memprihatinkan. Indonesia belum sepenuhnya siap menyongsong pasar bebas ASEAN (AEC) 2015 dan berbagai komitmen global lainnya pada masa mendatang. Karena itu, upaya nyata dalam pemberdayaan dan pengelolaan tenaga kerja merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan.

Khusus menyangkut peran tenaga kerja Indonesia dalam menggerakkan roda dunia usaha, konsep tenaga kerja murah sudah tidak relevan lagi. Konsep tersebut harus diakhiri. Saatnya Indonesia membangun sistem ketenagakerjaan yang menempatkan kualitas, kompetensi, produktivitas, dan kesejahteraan pekerja sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi.

Sudah saatnya Agus, Aida, dan para buruh lainnya mendapatkan hak yang lebih layak dan seimbang dengan kerja keras mereka dalam membantu mengembangkan serta menumpuk pundi-pundi perusahaan multinasional.

“Saya tetap tidak berharap bisa membeli sepatu Adidas atau kaos Nike, apalagi membeli kostum Timnas Inggris. Cukup untuk menyekolahkan anak dan memberi mereka rekreasi ala kadarnya jika upah saya naik,” harap Mulyati saat menuntut kenaikan upah.

“Anakku itu idolanya Wayne Rooney dan Lionel Messi. Dia pasti senang kalau tahu bapaknya adalah salah satu dari sekian ribu orang yang menjahit pakaian untuk mereka. Kalau dia minta, ya tinggal dibelikan emaknya yang palsu-palsu di pinggir jalan, Rp20 ribuan,” kata Hasan. Ia juga bekerja di salah satu perusahaan garmen multinasional.

“Jadi, tidak muluk-muluklah. Cukup untuk hidup layaknya keluarga di kota besar, bisa membayar angkot, membayar sekolah anak, dan menonton Piala Dunia di televisi tanpa harus memikirkan utang sembako,” lanjut bapak dua anak tersebut.

Karena itu, diperlukan suatu konsepsi dalam menyiapkan dan menata tenaga kerja yang saling terkait secara integral dan komprehensif. Langkah tersebut dapat dimulai dari standardisasi kelulusan pendidikan, standardisasi pekerjaan, peningkatan kompetensi, hingga sertifikasi kompetensi secara nasional maupun internasional. Semua itu menjadi parameter sekaligus daya dorong bagi tenaga kerja Indonesia untuk mampu bersaing di pasar internasional.

Sejalan dengan itu, iklim ketenagakerjaan yang kondusif juga harus dibangun. Ketersediaan tenaga kerja berkualitas harus diimbangi dengan pasar kerja yang kondusif serta menghargai kualitas dan kompetensi tenaga kerja. Sarana dan prasarana pelatihan kerja yang memadai juga harus segera diwujudkan.

Yang paling utama adalah membangun sistem pengupahan yang mampu mengapresiasi tenaga kerja berkualitas serta kebijakan yang menempatkan tenaga kerja Indonesia sebagai aset utama pembangunan. Sebagai konsekuensinya, tenaga kerja juga harus meningkatkan etos, produktivitas, profesionalisme, dan disiplin kerja.

Semua itu kemudian harus disusun dalam konsep kebijakan dan strategi yang tepat di sektor ketenagakerjaan. Langkah pertama adalah meninggalkan kebijakan usang yang menjadikan tenaga kerja murah sebagai keunggulan. Kebijakan tersebut harus diakhiri dan digantikan dengan strategi peningkatan kualitas, kompetensi, produktivitas, serta kesejahteraan tenaga kerja Indonesia.

SDM yang andal bukan sekadar kebutuhan dunia usaha, melainkan senjata utama Indonesia untuk keluar dari jebakan upah murah dan memenangkan persaingan global.

Berita Terkait

TERKINI