Skip to content

Fransiscus Go, Inspirasi dari Timor

Facebook
WhatsApp
Twitter
Email
Print

 

KEFAMENANU – Perjalanan hidup tidak selalu dimulai dari posisi yang besar. Terkadang, langkah sederhana yang disertai keberanian justru menjadi awal dari perjalanan panjang yang menginspirasi. Hal itulah yang tergambar dari sosok Ir. Fransiscus Go, S.H., putra Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berani melangkah dari seorang karyawan hingga menjadi wirausaha dan penggerak pemberdayaan masyarakat.

Fransiscus Go menorehkan pengalaman di berbagai bidang. Mulai dari dunia ketenagakerjaan, entrepreneur, business builder, penulis, hingga aktivitas sosial kemasyarakatan. Perjalanan tersebut membentuk sosok yang dikenal berdedikasi, visioner, sekaligus profesional dalam melihat berbagai persoalan dan peluang di tengah masyarakat.

Dalam bincang ringan bersama jurnalis RakyatNTT.id, Robert Kadang, pada akhir pekan Agustus 2026, Fransiscus Go menceritakan sejumlah aktivitas yang selama ini dikembangkan. Baginya, membangun usaha tidak semata-mata berbicara mengenai keuntungan, tetapi juga bagaimana sebuah usaha dapat menciptakan nilai dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Melalui GMT Property Management dan GMT Institute, misalnya, ia mendorong pengelolaan properti yang dilakukan secara profesional dan efisien. Pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis tersebut, terutama untuk menjaga sekaligus meningkatkan nilai aset.

Langkah Fransiscus Go juga merambah sektor kesehatan dan gaya hidup. Ia berupaya membangun ekosistem yang mempertemukan layanan kesehatan dengan edukasi serta perubahan pola hidup yang lebih sehat. Menurutnya, kesadaran menjaga kesehatan perlu dibangun melalui pengetahuan dan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.

Di sektor usaha riil, sejumlah nama seperti Wihrasa, Sayur Kendal, Kantin Kendal, Nara Kupu Village, dan Nara Kupu Jogja menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Berbagai usaha itu dikembangkan bukan hanya untuk menghasilkan produk dan layanan, tetapi juga membuka kesempatan kerja, mendukung ketahanan pangan, serta menggerakkan perekonomian masyarakat di tingkat lokal.

Semangat membangun kemandirian juga menjadi bagian penting dari aktivitas sosialnya. Melalui Yayasan Felix Maria Go, gerakan BAJAGA, serta gagasan TUMHIHO atau *Tumbuh Mandiri, Hidup Terhormat*, Fransiscus Go membawa pesan bahwa pemberdayaan masyarakat harus diarahkan pada terciptanya kemandirian.

Prinsip tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima bantuan. Sebaliknya, masyarakat didorong untuk memiliki kemampuan, kesempatan, dan kepercayaan diri agar dapat berdiri di atas kaki sendiri. Bagi Fransiscus Go, bantuan yang baik adalah bantuan yang pada akhirnya mampu mengurangi ketergantungan.

Dampak dari berbagai aktivitas tersebut telah dirasakan oleh banyak kalangan. Namun, di balik berbagai capaian dan pengalaman yang dimiliki, Fransiscus Go tetap membawa satu pesan sederhana: keberhasilan akan memiliki makna ketika dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Sebagai alumni PPRA XLIX Lemhannas RI, ia juga menuangkan pemikirannya melalui sejumlah buku. Di antaranya Mengakhiri Era Tenaga Kerja Murah, Jembatan Emas Angkatan Kerja Indonesia, dan Berani Melangkah (Dari Karyawan Menjadi Wirausaha). Buku-buku tersebut menjadi bagian dari konsistensinya menyuarakan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pendidikan, kompetensi, kewirausahaan, kesehatan, dan kerja nyata menjadi sejumlah hal yang terus ia dorong sebagai fondasi kemajuan masyarakat. Ia meyakini pembangunan Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan dari atas, tetapi juga membutuhkan manusia-manusia yang berani mengambil peran dan menciptakan perubahan dari lingkungan masing-masing.

Kisah Fransiscus Go pada akhirnya bukan sekadar cerita mengenai perjalanan seorang pengusaha. Lebih dari itu, perjalanan dari Kefamenanu menuju berbagai bidang usaha dan pemberdayaan menunjukkan bahwa keberanian untuk mengambil langkah pertama dapat membuka jalan menuju kesempatan yang lebih besar.

Dari seorang karyawan, ia memilih menjadi wirausaha. Dari dunia usaha, ia bergerak membangun ekosistem. Dan dari pengalaman yang dimilikinya, ia kembali menyentuh masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa kesuksesan bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi juga tentang seberapa banyak manfaat yang dapat ditinggalkan di sepanjang perjalanan.

Berita Terkait

TERKINI