Skip to content

Peluang Ekspor SDM hingga Mencuri Ilmu

Facebook
WhatsApp
Twitter
Email
Print

Oleh: Ir. Fransiscus Go, diambil dari buku Mengakhiri Era Tenaga Kerja Murah

Krisis ekonomi Amerika Serikat dan Eropa membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi sasaran relokasi produksi. Jika negeri dengan 250 juta penduduk ini mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia—terutama tenaga kerja yang ditunjang oleh faktor kompetensi, keterampilan, produktivitas, profesionalisme, kreativitas, dan efisiensi—maka hijrahnya industri ke dalam negeri menjelma menjadi solusi masalah pengangguran akut yang telah menjadi momok selama belasan tahun. Dus, SDM mumpuni ini selanjutnya akan menghasilkan produk industri yang berdaya saing untuk menjadi ujung tombak menghadapi kompetisi global.

Pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil, yaitu antara $6$–$6,5\%$ per tahun, seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama mereka yang berada di kelas menengah bawah. Pertumbuhan ekonomi ini harus berkualitas sehingga mampu memberikan peluang kesempatan kerja secara optimal. Caranya? Membuat proses pembangunan difokuskan pada peningkatan kemampuan industri berbasis pengetahuan, yang akan menghasilkan produk-produk unggul dengan dukungan tenaga kerja yang kompeten dan berkualitas. Ringkasnya, sudah waktunya berhenti diobral sumber daya alam mentah. Bahan tambang dan sumber daya alam lainnya bisa diolah menjadi produk yang punya nilai tambah. Proses menuju penciptaan nilai tambah inilah yang akan menjadi jembatan bagi peningkatan kesejahteraan.

Ekspor SDM, mungkinkah? Mungkin saja, sebab pertumbuhan ekonomi beberapa negara anggota ACFTA—seperti China, Malaysia, Filipina, dan Vietnam—menunjukkan peningkatan disertai peluang lapangan usaha di negara-negara tersebut. Sejalan dengan ratifikasi kesepakatan, akan terjadi mobilitas tenaga kerja yang bebas di komunitas ini. Hal ini menjadi peluang bagi tenaga kerja Indonesia berkualitas untuk mendapat kemudahan dalam kesempatan bekerja di negara tujuan. Sekali lagi, peluang ini hanya bisa direbut dengan mengirim tenaga terampil dan terus mengurangi pekerja domestik yang kian hari kian banyak menyuguhkan kisah menyayat hati di negeri orang.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil dalam beberapa tahun terakhir ini membawa dampak positif bagi industri dalam negeri untuk memproduksi barang, terutama industri makanan jadi. Pertumbuhan ekonomi yang baik memberikan kontribusi positif bagi daya beli masyarakat, yang otomatis mempengaruhi secara positif daya beli pasar domestik. Industri yang berkembang akan menjadi peluang bagi peningkatan penyerapan tenaga kerja berkualitas.

Kemudahan perizinan dan mengalirnya investasi ke dalam negeri yang dilakukan terhadap *multinational corporation* (MNC) dapat membuka peluang lebih besar bagi kesempatan kerja di Indonesia, sehingga tenaga kerja yang telah mengalami peningkatan pendidikan dan keterampilan dapat terserap di berbagai MNC. Di banyak tempat, saat ini tengah diupayakan sistem perizinan kilat: sehari beres atau yang lebih dikenal dengan sistem satu atap. Lagi-lagi harus mencontohkan Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang izinnya bisa diurus tanpa biaya sepeser pun asal investor membawa manfaat bagi masyarakat setempat, termasuk menyerap tenaga lokal dan tentu saja pro-lingkungan.

Dunia dalam genggaman. Dari dalam ruang paling pribadi seperti kamar tidur, dunia bisa dijangkau. *Deal* bisnis pun bisa tercapai hanya dengan menggerakkan ujung jari atau mengutak-atik layar sentuh. Senyum saling mengembang juga bisa dipamerkan setelah *deal* didapat melalui percakapan video jarak jauh yang menghubungkan pedagang batik Pekalongan dengan importir di Kepulauan Solomon. Bisa jadi, kan? Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang cepat, mudah, murah, efisien, dan efektif antarnegara di dunia sangat membantu interaksi setiap individu, pelaku usaha, dan negara. Peluang ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana transformasi teknologi, ilmu pengetahuan, serta informasi penting guna mendorong peningkatan kualitas tenaga kerja di Indonesia.

Penggunaan tenaga kerja asing secara terkendali di Indonesia bisa dipakai sebagai transformasi keterampilan dari luar yang positif dan diadopsi tenaga kerja Indonesia. Peluang bagi percepatan dan pengembangan kualitas tenaga kerja Indonesia didapat dengan cara mengadopsi teknologi, manajemen, maupun keterampilan dari tenaga kerja asing. Ringkasnya, SDM Indonesia bisa “mencuri” banyak ilmu dari pekerja-pekerja pendatang itu.

Bonus demografi penduduk Indonesia sesungguhnya bisa menghasilkan devisa yang besar bagi negara, asal bonus ini dapat dimanfaatkan melalui peluang pertumbuhan ekonomi negara-negara *emerging market*. Untuk mengimbanginya, mutlak diperlukan antisipasi dalam bidang pendidikan dan pelatihan guna menghasilkan tenaga kerja yang kompeten.

Penggalan sebaris syair lagu “tongkat kayu jadi tanaman” sudah cukup untuk menggambarkan Indonesia sebagai negeri pemilik potensi kekayaan alam yang melimpah dan bervariasi. Hal ini menjadi peluang bagi pembangunan yang berfokus pada pembangunan sumber daya manusia dan berkorelasi langsung dengan potensi daerah bersangkutan.

Selaras dengan hal di atas, jumlah kekayaan alam yang melimpah dan posisi strategis Indonesia di titik silang perdagangan menjadi peluang besar bagi bangsa Indonesia untuk mempersiapkan arah kebijakan ekonomi. Ini lagi-lagi terkait agar Indonesia tidak harus selalu mengekspor bahan mentah, tetapi harus juga menghasilkan barang jadi untuk konsumsi pasar domestik maupun internasional. Hal ini memberi peluang bagi penyerapan tenaga kerja berkualitas serta penyerapan kekayaan alam yang optimal dan terkendali bagi pengembangan tenaga kerja Indonesia.

Kesadaran negara-negara untuk hidup berkelompok dan beraliansi dalam satu kawasan memberikan peluang rasa aman. Negara-negara berkomitmen untuk menciptakan hubungan harmonis, yang kemudian menjadi peluang bagi pengembangan sumber daya manusia.

Globalisasi cenderung menggiring tenaga kerja menuju basis kompetensi kerja global—misalnya harus mampu berbahasa Inggris—sehingga perusahaan-perusahaan pengguna tenaga kerja tidak lagi sembarang menerima tenaga kerja tanpa kompetensi yang dituntut dunia kerja. Ini juga merupakan peluang bagi peningkatan tenaga kerja Indonesia berkualitas. Dengan syarat ini, tenaga kerja tidak punya pilihan selain harus meningkatkan kualitas.

Nah, yang ini terkait ekspor SDM yang sudah dibahas di atas. Surplus remitansi dalam penerimaan devisa dari tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri memacu pekerja kita untuk melirik peluang kerja di luar negeri. Pendapatan asli daerah secara tidak langsung meningkat, sejalan dengan mengalirnya pengiriman dana tenaga kerja Indonesia ke daerah, sehingga meningkatkan peredaran uang dan perekonomian daerah. Terbukanya peluang usaha di luar negeri yang dilandasi oleh kesepakatan antarnegara untuk mempermudah mobilisasi tenaga kerja berpengaruh positif, yaitu penurunan angka pengangguran.

Budaya kerja disiplin dan penghargaan tenaga kerja berbasis kinerja, jika diadopsi dalam seluruh budaya kerja, akan memberi peluang besar bagi pemerintah dan dunia usaha atau industri dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia. Harus kita akui, banyak situasi yang memperlihatkan tenaga kerja asing memberi contoh disiplin kerja dalam perusahaan.

Berita Terkait

TERKINI