Oleh: Fransiscus Go dan Hani Subagio [diambil dari buku Mengakhiri Era Tenaga Kerja Murah]
JAKARTA – Dua laki-laki menggotong papan besar berwana perak dengan ekspresi wajah yang ditekuk. Salah satu menggamit papan perak dengan sebelah tangan, sebelah lainnya menutup mukanya, seakan ingin menyembunyikan sedih. Papan bertuliskan Lehman Brothers itu baru saja dicopot dari depan gedung kantornya di pusat. Sebuah foto yang beredar di banyak media pada 2008, mampu menceritakan keguncangan luar biasa di negeri Paman Sam.
Perjalanan lebih dari satu setengah abad Bank investasi raksasa Lehman Brothers menuju kubur untuk selama-lamanya, bagi sebagian orang masih sulit dipercaya. Namun, itulah krisis ekonomi putaran lanjutan, setelah sepuluh tahun sebelumnya menerjang ASIA. Kebangkrutan perusahaan milik Bear Stearns di Amerika Serikat (AS) sejak 15 September 2008, menjadi permulaan yang pada akhirnya merambah hampir semua negara. Krisis pun dengan cepat menjadi isu global.
Setelah kebangkrutan perusahaan-perusahaan besar di AS, pasar keuangan yang menjadi urat nadi perekonomian dunia, mengalami gelombang kepanikan karena nilai saham yang merosot. Pemerintah AS, mengeluarkan kebijakan untuk mengatasi kebangkrutan tersebut dengan bailout terhadap sektor keuangan sebesar 700 miliar hingga 1 triliun dolar AS.
Gelombang krisis merembet ke Eropa. Pada tahun 2009, nilai ekspor Uni Eropa anjlok 22%, tetapi kembali naik 13% di tahun 2010. Data awal tahun 2011 memperlihatkan ekspor sudah kembali normal. Untuk tahun 2009, Yunani hanya mengekspor 1 miliar dolar saja ke Amerika Serikat dan mengalami dampak yang relatif sama. Berkurangnya daya serap pasar Paman Sam melesukan produksi ekspor yang bisa berdampak pada pemutusan hubungan kerja di negara asal. Selanjutnya Yunani menjadi negara yang terpaksa ditopang Dana Moneter Internasional dan Uni Eropa untuk melanjutkan nafas kehidupannya.
Mahalnya ongkos produksi dan minimnya insentif dari negara kawasan Eropa memaksa para produsen untuk memindahkan sentra produksinya ke lokasi yang lebih menguntungkan. Pilihan itu jatuh pada negara berkembang dengan ongkos produksi rendah. Bukan biaya energi yang murah, tapi ongkos pekerjanya juga teramat rendah. Kemudahan ini masih ditambah peraturan yang tidak kompleks, pajak nyungsep jika dibandingkan dengan pajak negara asal, plus insentif investasi asing yang menggiurkan. Komplit! Pokoknya, serba mudah.Satu-satunya yang tidak diinginkan pemodal, tetapi muncul, barangkali korup.
Kembali ke soal hijarahnya produsen dari kawasan Eropa yang dilanda pilunya krisis. Keputusan itu lantas berdampak terhadap ketersediaan lowongan kerja dalam negeri Uni Eropa sendiri. Nah, bisa ditebakkan kan? SDM Eropa yang sejak mula memang sudah piawai dan tangguh, ikut hijrah ke mana pabrik atau produsen berpindah. Mereka akan dengan mudah masuk, bila SDM di negara ketiga yang menjadi negara tempatan produsen berkualitas lebih rendah ketimbang mereka.
Sebaliknya, pemindahan sentra produksi dari Eropa ke negara-negara dunia ketiga, bisa menjadi peluang tersendiri bagi penyerapan tenaga kerja, jika SDM yang ada mumpuni. Akan halnya di Indonesia, negeri ini memiliki SKA dan SDM yang melimpah. SDM Indonesia yang melimpah dapat menjadi pasar sekaligus tenaga kerja bagi industri-industri baru yang dialihkan ke negara-negara berkembang. Masyarakat Indonesia semestinya mempersiapkan diri agar dapat mengambil peluang
dari kejadian tersebut.
Hal-hal yang harus dipersiapkan, sebagai berikut:
1. Pembangunan kualitas tenaga kerja Indonesia melalui pendidikan.
2. Pemberian keterampilan hidup agar mampu menciptakan kreativitas dan kemandirian.
3. Menumbuhkan budaya dan sikap hidup global, yaitu mandiri, kreatif, menghargai karya, optimis, dan terbuka.
4. Menumbuhkan wawasan kebangsaan dan identitas nasional.
5. Menciptakan pemerintahan yang transparan dan demokratis.
Akan tetapi, masalahnya, tidak mudah bagi SDM lokal untuk menjadikan limpahan produksi itu sebagai ungkapan mendapat “durian runtuh”. Ada isu global yang relevan yang telah disinggung di atas juga harus diperhatikan, yaitu tingginya angka pengangguran di Eropa. Rendahnya peluang kerja di Eropa akan mendorong migrasi tenaga-tenaga kerja dari Eropa yang secara kualitatif lebih baik daripada Indonesia. Pemerintah Indonesia perlu menyikapi hal ini dengan serius, terutama dalam kaitan dengan peningkatan kemampuan tenaga kerja Indonesia, terutama dalam penguasaan ilmu dan pengetahuan. Inilah pangkal mula sengatan rumus globalisasi bagi pekerja Indonesia.




