oleh: Ir. Fransiscus Go (diambil dari buku Mengakhiri Era Tenaga Kerja Murah)
JAKARTA – “Kantongi dahulu nasionalismemu,” ungkapan kontroversial yang tidak nasionalis itu muncul dalam sidang peninjauan kembali sebuah Undang-Undang (UU) di Mahkamah Konstitusi (MK). Ungkapan itu seakan menggambarkan nasionalisme telah dilenyapkan dan kedaulatan ekonomi digadaikan oleh arus globalisasi yang makin terang benderang.
Dosis globalisasi sepertinya terlalu tinggi, sehingga banyak pengatur ekonomi di negeri ini linglung karenanya. Barangkali, pendiri bangsa, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka akan menangis di dalam kubur mereka, bila bisa mendengar munculnya ungkapan itu. Terlebih, bila ungkapan itu muncul dari orang-orang Indonesia sendiri. Tetapi, ada juga yang berujar, Indonesia tak punya pilihan jika tidak ingin lebih terpuruk, karena globalisasi ekonomi adalah realitas yang harus dihadapi.
Namun, mungkin masih ada harapan di panggung lain. Dalam sebuah acara launcing buku, Jusuf Kalla membuka sepatunya, dan dengan bangga memperlihatkan “JK Collection” yang merupakan produk dalam negeri. Sepatu ini buatan Cibaduyut, biar murah, tapi sangat nyaman,” ungkap JK yang diiringi tepuk tangan.
Masih terkait urusan JK Colletion, Jusuf Kalla sempat membuat seorang anggota KADIN yang masih gemar mengoleksi tas, sepatu, dan baju impor, gelagapan di depan banyak orang. Soal sepatu buatan Cibaduyut itu, lelaki asal Makasar ini sangat serius. Baginya, sepatu dalam negeri adalah simbol pembelaannya terhadap ekonomi bangsa. Kesetiaannya terhadap JK Colletion, diperlihatkan di manapun ia berada, termasuk ketika melawat ke berbagai negara. JK Collection juga menjadi saksi dalam perjalanan Jusuf Kalla mengikuti perundingan perdamaian di London, Inggris.
Dalam kacamata Jusuf Kalla, globalisasi dimaknai secara terbalik, yakni berupaya membawa produk Indonesia ke luar, bukan membawa barang luar ke dalam. Namun, sayangnya cerita yang mirip anggota Kadin yang disinggung Jusuf Kalla, jika diukur, lebih panjang ketimbang kisah perjalanan sepatu Cibaduyut di negeri ini. Lagi-lagi, lantaran sodoran globalisasi ekonomi yang kemudian berubah diagung-agungkan.
Akhir abad XX merupakan era yang ditandai dengan munculnya globalisasi. Pola kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya mulai tercampur menjadi satu tanpa terikat lagi oleh batas-batas negara-bangsa. Peran dan efektivitas negara-bangsa mulai dipertanyakan. Dalam buku berjudul “Hancurnya Negara-Bangsa: Bangkitnya Negara-Kawasan dan Geliat Ekonomi Regional di Dunia Tak Terbatas,” sang penulis Kenichi Ohmae, melihat bahwa negara-bangsa yang dicirikan mulai memudar dengan adanya teritorium, kontrol atas kekerasan, struktur kekuasaan impersonal, dan legitimasi. Negara-bangsa perlahan mulai kehilangan fungsinya. Empat variabel dalam globalisasi yang dapat dikatakan sebagai faktor penentu semakin tidak berkuasanya negara-bangsa, adalah industri, investasi, individu, dan informasi.




